Coretan Menjelang Tidur

Ga ngerti apa yg kumau sebenarnya. Ga tahu harus ngapain. Apa harus rela berdamai dengan kenyataan atau berusaha mempertahankan apa yg sudah digenggaman. Well…untuk mencoba menerima kenyataan butuh proses lama untuk sembuh lagi, sedang untuk bertahan? Juga butuh pengorbanan dan itu harus dibayar dengan mahal dengan menggadaikan harga diri. Setidaknya itu menurutku.

Selalu berusaha untuk konsentrasi mendengarkan kata hati dan intuisi tapi sampai sekarang belum berhasil juga. Masih ada ego yang selalu bercampur aduk. Belum juga sembuh dari luka lama. Tapi knapa juga sekarang harus membuka luka baru lagi? Dan kau tahu itu…dimana kepekaaanmu?

Rasanya tidak pernah meminta yg berlebih…tidak pernah menuntut sesuatu yg kau tak sanggup berikan. Maap…ku meragu untuk kali ini….ragu tuk melangkah dengan segala resiko yg kau tawarkan..tetapi takut juga untuk mengambil keputusan yang kutahu akan membuat sakit. Dan semua itu berawal dari kesalahan kecil yang memicu kesalahpahaman menurutku. Kesalahan yg tidak seharusnya ada. Bukankah aku sudah meminta maap? Bukankah sudah kuakui semuanya? Tapi kenapa juga masih tak kau beri maap itu? Sebegitu arogannyakah sampai hanya kata maap saja tak bisa kau berikan. Tapi kau juga tak rela melepasku begitu saja.

Untuk kembali seperti dulu lagi itu sudah susah katamu. Lalu? Apa aku harus terus menunggu dan menunggu…heeh…
Tidakkah kau sadar kalau semua ini justru akan semakin membuatku sakit. Tidakkah kau tahu kalau aku sedang belajar untuk kembali seperti beberapa tahun lalu yg bisa percaya dengan yang namanya cinta. Percaya bahwa cinta itu ada, karna beberapa tahun belakangan ini ku kehilangan kepercayaan akan yang namanya cinta.

Teringat percakapan dengan seorang sahabat beberapa waktu lalu. Tentang perlunya mempunyai pasangan. Karna saat itu aku dengan ngototnya mengatakan kalau tanpa pasangan, kita bisa hidup koq. Tanpa pasangan juga bisa survive. Tapi ternyata semua itu hanya pendapat egoisku. Dan juga teringat kiriman pesan seorang teman yang nun jauh dinegeri sana tentang mr wrong dan mr right. Semua itu yang membuatku semangat untuk kembali belajar dan belajar. Belajar untuk mengalah, membuang semua egois itu. Dan belajar untuk menerima segala kekurangan dan kelebihanmu.

Dulu, aku memang pemuja dan pejuang cinta. Dan ternyata sekarang bekas bekas itu masih ada. Dengan mengesampingkan semua ego yg ada, menemui untuk mencari sebuah kepastian. Sempat takjub sendiri dengan yg kulakukan itu. Well….semua itu tidak pernah kau hargai. Yang kutahu, aku sudah berusaha melakukan yang terbaik. Terserah kau menilainya seperti apa. Itu hakmu….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s