Hukum Yang Terbeli

Jika ada yang tanya “hal apa yang paling saya hindari” maka dengan tegas saya akan menjawab “polisi, Jaksa, dan Hakim”. Sejak dulu saya sudah tidak simpatik dengan lembaga yang mengatasnamakan pelindung dan pengayom masyarakat itu. Tapi masyarakat mana yang dulu. Keadilan sungguh sangat mahal harganya. Hanya satu yang saya minta, semoga saya tidak akan pernah berurusan dengan mereka.

Semasa kecil saya pernah bercita-cita menjadi polwan. Saya sangat kagum pada polwan kalo melihat mereka mengenakan pakaian seragamnya. Tapi cita-cita itu berubah drastis seiring saya bertambah dewasa. Melihat disekeliling bagaimana seorang Polisi sangat arogan, apalagi Polantas. Saking traumnya sama Polantas ini, semasa saya belum punya SIM dan melihat helm putih, saya langsung gemetaran. Tetapi setelah memiliki SIM, saya cuek biarpun ada sweeping gabungan darimanapun. Tapi citra polantas sudah sangat buruk di mata masyarakat. Polantas identik dengan tilang. Tilang artinya uang.

Alasan kedua mungkin sedikit kocak. Saya tidak respek terhadap polisi karna rata rata polisi tukang selingkuh, suka bermain perempuan. Bukan karna saya pernah menjadi korban lho yah. Tetapi pengalaman dari teman temanku sendiri. Banyak diantara teman temanku yang mempunyai pasangan Polisi. Dan rata-rata rumah tangganya kacau karna alasan yang tadi. Maka semakin bertambahlah ketidaksukaan saya dengan mereka-mereka si seragam coklat. Pernah satu masa salah satu sepupu saya dilamar oleh Polisi, sayalah orang pertama yang sangat menentangnya. Dan alhamdulillah lamarannya ditolak dengan berbagai macam alasan. Dan masih banyak lagi alasan alasan yang membuat saya sama sekali tidak simpatik.

Berawal ketika sepupu saya harus berurusan dengan mereka mereka karena tuduhan ikut serta mengeroyok temannya sendiri. Pada saat kejadian itu kebetulan sepupuku lewat dan mampir menonton perkelahian itu. Dan yang menjadi korban ternyata anak seorang petinggi di kepolisian daerahku. Hohoho…you knowlah apa yang terjadi selanjutnya. Gampang ditebak bagaimana endingnya. Maaf sampai sekarang, saya tidak pernah bersimpati dengan kesatuan yang berseragam coklat ini. Bukan karena masalah Ucha sepupuku tetapi karna ada banyak hal yang mendasari. Ditambah lagi dengan adanya masalah Ucha ini. Lengkaplah sudah. Ini juga yang menjadi alasan saya untuk tidak ngefans dengan Briptu Norman yang fenomenal karna chaiya chaiyanya itu.

Lanjut cerita orang tua si korban tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu, ya iyalah orang tua manapun tidak akan ada yang mau melihat anaknya tersiksa. Apalagi dengan kekuasaan yang ia miliki secara beliau mempunyai power untuk bisa melakukan apa saja terhadap para calon tersangka ini. Semua orang orang yang ada di TKP diangkut satu persatu ke kantornya. Sebagian yang merasa memang bersalah setelah mengetahui kalo akan ada penangkapan akhirnya melarikan diri. Hanya ada beberapa orang yang menyerahkan diri. Termasuk Ucha juga. Padahal waktu itu dia baru saja opname karena sakit peradangan hati. Kami keluarganya merasa khawatir. Apabila mengingat cerita dari orang-orang kalau orang yang di sel itu selalu menerima perlakuan yang tidak wajar. Kami khawatir karna mengingat kondisi Ucha. Bagaimana jika ia disiksa sedangkan luka akibat peradangan hatinya belum sembuh benar.

Kami berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini. Paling tidak adanya penangguhan penahanan. Mengingat Ucha adalah pelajar yang sebentar lagi akan ujian. Dan juga termasuk anak dibawah umur. Saya juga tidak mengerti hukumnya jika anak dibawah umur berurusan dengan kriminal. Tapi nyatanya orang tua si korban tidak mau menerima perdamaian dari kami. Dia ngotot untuk memproses dengan mengatasnamakan keadilan dan hukum yang berlaku di negeri kita. Kami tidak berhasil membawa pulang Ucha. Akhirnya kami menyerah dengan syarat selama dalam tahanan Ucha tidak boleh tersentuh tangan sedikitpun oleh mereka.

Setelah berusaha keras, kami bisa mendapat surat penangguhan tahanan. Ucha bisa kembali sekolah untuk ikut ujian. Dengan syarat harus wajib lapor. Para orang tua dari calon tersangka ini, sudah berbondong bondong ke rumah orang tua korban yang polisi itu. Tapi tak sedikitpun hatinya tergugah untuk menyelesaikan masalah ini dengan damai. Padahal si korban tidak menderita luka yang berarti akibat perkelahian itu. Dia sehat sehat saja, hanya ego orang tuanya saja yang menginginkan agar semua diproses hingga ke pengadilan. Wow..wow….siapa yang punya kekuasaan dialah yang menang. Kami hanya bisa bersabar. Seandainya si korban ini bukan anak dari pejabat kepolisian tidak akan mungkin kasusnya akan diperpanjang. Banyak juga mengalami hal yang sama tapi tidak serumit ini penyelesaian kasusnya.

Setelah berbulan bulan akhirnya datanglah panggilan dari kejaksaan. Kasusnya sudah dilimpahkan. Artinya semua ini bukan main main lagi. Saya sudah berfikir, kasus ini tidak akan mudah diselesaikan. Saya sudah membayangkan bagaimana rumitnya jika berurusan dengan hukum dinegeri ini. Hukum di Indonesia hanyalah menjadi mainan bagi sebagian aparat penegak hukumnya. Keadilan hanyalah simbol. Pencari keadilan harus membayar mahal untuk sebuah kebebasan. Semua bisa diselesaikan dengan NEGOISASI. Entah siapa yang harus dipersalahkan. SDMnya atau sistem itu sendiri?

Tidak peduli Jaksa atau Hakim itu teman kita sendiri. Seyogyanya justru dialah yang bisa membantu kita untuk mencari keadilan. Eh justru dia yang harus kami pikirkan bagaimana bisa menghasilkan NEGO yang sesuai untuk mereka. Saya sangat prihatin™ dengan hukum kita. Tidak bisa juga menyalahkan mereka, karna tidak gratis untuk menyandang predikat itu. Harus membayar mahal untuk bergabung dalam lembaga itu. Bagaimana aparatnya tidak sebobrok itu, kalau untuk lulus tes saja harus menyiapkan upeti yang tidak sedikit. Jadi siapa yang harus dipersalahkan?

Advertisements

10 thoughts on “Hukum Yang Terbeli

  1. saran saya sih, jangan mau yah nego2 begitu,
    banyak ruginya, saya juga pernah mengalami dulu, menimpa orang tua saya, dan alhamdulillah, perjuangan mencapai keadilan murni berhasil bebas murni; tentu lebih menenangkan lahir batin, ketimbang nanti bebas tapi atas angka2 yang dibayarkan.
    tapi tentunya ya kembali kepada pertimbangan keluarga Ucha sebagai pengambil keputusan akhir.

  2. waw..masalahnya masih berlanjut sampe sekarang ?
    dan yes, saya juga salah satu orang yang lebih memilih menghindar kalau berurusan sama seragam cokelat itu..

    lebih banyak yg mudharat daripada bermanfaat soalnya

  3. Insya Allah masalahnya cepat selesai tanpa negosiasi :(…
    memang klu berurusan dengan aparat hukum kayak gak ada akhirnya klu tanpa uang pelicin. Heran juga bukannya melindungi malah malakin. Tapi moga2 suatu saat aparat hukum bisa merombak diri agar bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s