Singapura: Kota Modern Masa Kini

Subuh menjelang saat kami tiba di rest area. Sebentar lagi perbatasan Malaysia dan Singapura. Namun kami memilih untuk istirahat dan menumpang shalat subuh. Sembari mengisi kartu kedatangan yang akan disetor di imigrasi Singapura nantinya. Kartu kedatangan sudah disiapkan Pak Jay. Lagi-lagi saya dibuat kagum akan sarana umum di rest area ini. Toiletnya berlimpah air dan bersih, mushallahnya bersih dan mengkilat. Jadi kepengen tidur aja bawaannya. Pemerintah Malaysia sangat memperhatikan kebersihan dan penataan wilayahnya. Kami juga menyempatkan sarapan. Setelah semua beres kami beranjak meninggalkan rest area dan melanjutkan perjalanan.

Kurang lebih 30 menit ke depan akan tiba di perbatasan Malaysia dan Singapura. Mobil akan berhenti di checkpoint imigrasi Johor Bahru. Kami harus turun dua kali untuk proses imigrasinya, untuk keluar Malaysia dan memasuki wilayah Singapura. Di imigrasi Malaysia, paspor akan dicap sebagai pertanda keluar dari wilayahnya. Kemudian naik ke mobil lagi menuju Woodlands Checkpoint Singapura. Menyerahkan kartu kedatangan dan paspor ke petugas Imigrasi yang berwajah oriental. Petugas imigrasi Singapura lumayan cerewet. Secara ini kali pertama saya ke Singapura. Saya menjawab semua pertanyaannya dengan santai dan cool. Saya berhasil lolos dari interogasi petugas dan paspor bertambah cap stempelnya lagi. Yihaaaa…..

Tapi berbeda dengan teman saya yang lainnya. Ternyata Ayu dan Iccung  tidak semulus dengan saya prosesnya. Mereka harus melalui beberapa proses agar bisa melewati imigrasi Singapura. Menurutnya itu sudah lumrah dalam setiap harinya ada pengunjung yang bernasib sama dengan mereka. Ayu dan Iccung digiring petugas Imigrasi  berwajah sangar ke ruangan khusus. Mereka ditanya-tanya mau ngapain, tinggal di mana nantinya, berapa lama, trus mana bukti tiket pulang ke negara asal dll. Dia kiranya kami ke negaranya mau menggembel apa 😆 Oh yah di kedua checkpoint ini semua barang harus dibawa serta. Itu juga menurut informasi dari Pak Jay. Pak Jay ini begitu sangat perhatian kepada kami. Dia mengingatkan apa yang harus kami lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan setiba di Singapura nantinya.

Tidak beberapa lama lagi kami akan berpisah dengan Pak Jay, karna tugasnya hanya sampai mengantar kami ke Singapura. Akan ada tim lainnya yang akan menjemput rombongan kami. Seharusnya guide kami yang di Singapura sudah harus menunggu kami di meeting point yang sudah kami sepakati. Tapi nyatanya setiba kami di sana, guide itu belum datang juga. Alasannya jalanan macet. Ya iyalah kalo sudah tahu macet harusnya datang lebih awal dong. Biar kami tidak menunggu terlalu lama. Nanti setelah menunggu 40 menit, guidenya muncul juga. Dari tampangnya saja sudah menyeramkan. Saudaranya Syahrukh Khan tapi versi sangarnya.Kami diantar menuju hotel di kawasan Baliester Road untuk check in dan mandi. Agendanya city tour saja untuk hari pertama kami di Singapura.

Singapura dikenal sebagai negeri singa dengan patung Merlionnya yang menghiasi salah satu sudut pusat kota. Singapura selalu identik dengan keramaian orang-orang yang menelusuri jalan-jalan dengan berjalan kaki. Udara yang bersih dan terbebas dari polusi, membuat acara jalan-jalan menelusuri Singapura tak terasa lelahnya. Tak dapat dipungkiri, Singapura jauh lebih berkembang dari Indonesia. Tidak bermaksud membanding-bandingkan tapi kenyataannya memang seperti itu. Beragam pesona yang membius dan membuat saya terkagum-kagum. Kebersihan dan keteraturan jalan-jalan Singapura yang membuat mata segar. Karna Singapura terkenal dengan kotanya yang bersih tanpa sampah. Di pinggiran jalan tidak ada pemandangan sampah seperti yang sering kita lihat di sini.

Ke Singapura belumlah lengkap apabila belum mengunjungi Merlion Park. Ikon kota Singapura yang fenomenal itu. Sejak dulu hanya mimpi bisa berfoto di patung singa. Dan akhirnya semua terwujud. Terik matahari tidak menjadi penghalang untuk memuaskan hasrat narsis kami. Saya sebegitu excitednya mengabadikan semua momen. Ternyata bukan hanya kami yang senorak itu. Di tempat ini banyak spot-spot yang menarik  untuk diabadikan sebagai kenangan indah selama di Singapura. Antaranya Esplanade Theaters yang terletak di sebelah Merlion Park. Tempat ini merupakan pusat pertunjukan kesenian di Singapura.

Puas berkeliling dan berfoto-foto di area Merlion Park, kami melanjutkan jelajah kota Singapura menuju daerah China Town. Daerah ini merupakan pusat segala barang-barang yang memiliki ciri khas budaya China. Mulai dari baju khas cina untuk wanita yang biasa disebut cheongsam hingga toko obat China yang menjual segala macam obat khas China. Juga banyak pedagang kaki lima yang menjual bermacam-macam barang, mulai dari souvenir yang murah, kaos yang bertuliskan Singapura, jajanan sehari-hari dan masih banyak barang unik lainnya. China Town surga belanja bagi yang ingin membeli ole-ole. Di sini saya membeli kaos untuk keponakan-keponakan tercinta.  Juga tidak lupa membeli beberapa gantungan kunci.

Usai berbelanja saatnya untuk mencoba kuliner. Guide menyarankan untuk mencoba makanan khas India. Karna lapar, kami setuju saja dengan saran guidenya. Kami diantar menuju restaurant India. Guide kami memesankan nasi  briyani. Aroma rempah-rempah sangat terasa. Makanan khas india identik dengan kari dan semacamnya. Tak lama berselang, pelayan datang membawa pesanan kami. Wow…dari penampakan dan aromanya saya sudah mulai  merasa bakalan ada yang tidak beres nantinya. Tapi saya cuek saja dan mulai mencoba sendokan pertamanya. Kami saling tatap dan secara bersamaan tertawa. Rasa nasi briyani tidak seperti dalam bayangan. Berasa seperti menelan kemenyan. Mau pesan menu lain tapi saya sudah trauma. Jangan-jangan sama saja rasanya. Tapi karna lapar, saya melanjutkan menyendok dan menambah kerupuk agar bisa menambah selera. Meski tetap usaha untuk menghabiskannya tapi kami  tidak sanggup juga. Akhirnya menyerah dan segera menenggak air mineral sebanyak-banyaknya.  Sejak saat itu, saya trauma dengan restaurant India.

Nasi BriyaniSetelah urusan kampung tengah rampung, acara jelajah Singapura kami lanjutkan ke daerah Bugis Street. Bugis Street adalah tujuan wisata belanja para pelancong di Singapura. Kawasan ini dikemas sedemikian rupa sebagai salah satu pusat belanja murah dan lengkap. Terletak di antara Rocchor, Victoria dan Queen Street. Suasananya cukup ramai, kalau di Makassar layaknya seperti MTC dan karebosi link. Pilihan barang yang ditawarkan disini diantaranya berupa jam tangan, souvenir, berbagai jenis t-shirt yang bertuliskan khas Singapura, sepatu, kaos, dan busana perempuan. Namun jangan heran dan kaget jika di kawasan ini dengan mudah menjumpai beberapa toko yang menjual pernak pernik alat keperluan urusan hubungan orang dewasa. Setelah menjelajah dapat saya simpulkan bahwa beberapa barang yang ditawarkan harganya memang terbilang murah. Namun untuk beberapa jenis barang lainnya, harga yang ditawarkan jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia relatif hampir sama. Untuk baju rata-rata yang dijual disana baju perempuan, paling murah adalah Sgd 10. Untuk t-shirt yang berlogo khas Singapura harganya cukup bervariasi, mulai dari 3 pc Sgd 10 sampai dengan 1 pc Sgd 10. Tergantung selera saja mau pilih yang mana. Sekitar satu jam setengah berkeliling, akhirnya kami memutuskan mengakhiri kunjungan di kawasan pusat perbelanjaan Bugis Street. Di sini saya  membeli beberapa t-shirt untuk ole-ole keponakan tercinta dan beberapa pernak-pernik. Tadinya pengen iseng membeli sex toys tapi akhirnya saya mengurungkan niat itu.

Bugis StreetPuas menjelajah kawasan Bugis Street, kami melanjutkan perjalanan menuju Mustafa Center. Lagi-lagi wisata belanja. Naluri perempuan memang beda jika berurusan dengan belanja. Mencari ole-ole dengan harga miring tempatnya adalah Mustafa Center. Terletak di Syed Ali Road di kawasan Little India. Mustafa Center adalah satu-satunya tempat belanja di Singapura yang terbuka 24 jam. Sudah bisa ditebak dari lokasinya di Little India, sudah tentu toko besar ini milik pengusaha India. Namanya Mustaq Ahmad dan mulai membuka toko ini tahun 1971. Mustafa Center mungkin tidak semewah beberapa mall lainnya di Singapura, tetapi memiliki ragam jualan dan harga yang bersahabat. Disini akan mendapatkan potongan harga segala produk, dari pakaian, parfum, souvenir, elektronik, make up, coklat dan bahkan makanan dan bahan makanan. Harga yang ditawarkan relatif lebih murah dari toko-toko lain.

mustafa centerNaluri komsumtif mulai bergejolak. Saya tidak dapat lagi menahan godaan untuk membeli parfum dan coklat. Pun dengan teman-teman saya lainnya. Kami berpencar mencari sendiri kebutuhan yang akan kami beli. Nanti kami akan bertemu setelah urusan belanja selesai. Kantongan belanja yang saya punya kian memberat. Berisi macam-macam coklat dan parfum. Pun dollar Singapura yang saya punya, kian menipis. Tapi saya cuek saja karna kapan lagi bisa ke sini kalau bukan sekarang. Selalu mencari pembenaran untuk memuaskan hasrat belanja yang ada. Semua barang yang dijual sama dengan yang dijual di mall-mall besar di Orchard atau Suntec City. Parfum semua asli cuma di Mustafa Center ini cara meletakkan barangnya cukup amburadul.

Tepat pukul 18.00 kami menyudahi penjelajahan di Mustafa Center. Wisata belanja untuk hari pertama kami di Singapura sudah cukup. Kaki juga sudah gempor setelah berkeliling dari satu gedung ke gedung lainnya. Tak terpikir lagi untuk ke mana-mana sore ini. Kembali ke hotel adalah pilihan yang paling bijaksana. Jika sudah mandi dan istirahat sejenak, tubuh akan kembali fit. Tentunya untuk menjelajah Singapura di malam hari akan lebih seru. Kami kembali ke hotel dengan perasaan lelah namun puas dengan apa yang kami dapatkan hari ini. Meski dompet semakin menipis 🙂

Advertisements