Gedung Putih Tak Harus Pongah

IMG-20130414-00204

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.5 tahun itu ternyata sangat singkat. Tempat yang biasa saya sebut rumah ini adalah rumah sementara yang kami tempati selama 5 tahun. Kurang lebih 3 bulan lagi akan meninggalkan rumah yang bercat putih ini. Tentunya sudah banyak cerita yang terangkai dan banyak kenangan yang tercipta. Rumah bercat putih ini adalah rumah jabatan wakil bupati Sinjai. Banyak orang yang beropini menjadi penghuni rumah jabatan itu adalah sebuah kemewahan. Tetapi bagi saya, semuanya biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya. Fasilitasnya pun tidak ada yang terlalu wah. Semuanya standar dan bahkan terkesan sederhana. Tidak ada protokoler yang mengatur. Semua berjalan dengan semestinya. Siapa saja bebas keluar masuk tanpa harus melewati aturan keprotokoleran.

Selepas kuliah saya kembali ke Sinjai. Awalnya saya keberatan. Dengan alasan saya mau mencari kerja di Makassar atau pun di luar Makassar asal bukan kembali ke Sinjai. Sejak dulu saya bercita-cita bekerja yang jauh dari kampung halaman. Jiwa pengembara yang menuntun saya untuk keluar dari zona nyaman. Tapi saya kalah argumen dengan keluarga-keluarga saya. Daripada tidak mendapat restu saya akhirnya mengikuti apa yang mereka inginkan. Kembali ke Sinjai dan menjadi honorer di kantor yang sekarang. Dan di sinilah saya berada.

Honorer….yah honorer. PNS bukan, swasta juga bukan. PNS plastik kami menggelarinya. Status dan nasib masih bergantung dengan predikat honorer kategori 2 yang sampai sekarang belum ada kejelasan seperti apa endingnya kelak. Tetapi berhembus kabar angin bahwa tahun 2013 akan ada pengangkatan untuk menjadi CPNS meski dilalui dengan tes sesama honorer se-Indonesia dan bukan dengan jalur umum. Lumayanlah untuk membesarkan hati yang meski berujung janji surga telinga.

Satu yang saya syukuri, meski status masih honorer tapi jam terbang saya sama saja dengan PNS lainnya. Setidaknya sudah banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan. Hanya menunggu waktu serta dibutuhkan kesabaran untuk mencapai puncak kesuksesan.

Manusia itu diciptakan dengan berbagai macam karakter yang berbeda-beda. Ada yang karakternya biasa-biasa saja, ada yang kadang aneh dan ingin tahu segalanya. Dan terkadang bertanya sesuatu yang seharusnya tidak penting untuk dia ketahui. Karakter seperti ini yang paling malas saya hadapi. Ada beberapa teman yang kadang bertanya dengan setengah menyindir ke saya “Enak yah tinggal di rujab? Tapi percuma tinggal di rumah jabatan, kalo  bertahun-tahun bertahan dengan status honorer. Masa sih keponakan Pak Wabup tidak bisa jadi PNS dengan jalur khusus. Padahal keponakan Pak Pejabat ini gampang banget lho jadi PNS. Bahkan semua ponakan-ponakannya setiap tahun ada saja yang lulus jadi PNS”. Jadi saya harus bagaimana? Ngamuk? Memangnya Sinjai ini saya yang punya? Apa saya harus memaksa om saya untuk KKN agar bisa meloloskan saya menjadi PNS? Sayangnya om saya bukan tipe pejabat yang mau mempergunakan kesempatan selagi ada. Meski saya tahu jika mau, semua itu bisa saja dilakukan. Dan yang terpenting,  saya sudah menjadi honorer jauh sebelum om saya menjadi 02 di Sinjai.

Jika mendapat sindiran seperti itu saya hanya bisa tersenyum. Pada awalnya saya agak emosi juga kalau ada yang mulai mengompori seperti itu. Tapi seiring waktu saya bisa menerimanya  dengan santai. Karena saya berfikir, semua akan ada waktunya.

Pernah juga saya mendapat pertanyaan iseng tapi terkesan dodol “Makanan di rujab itu pasti enak-enak kan? Kue-kue dan minuman pasti selalu ada? Haloooo…ini bukan sinetron….! Rasanya pengen nyolot tapi percuma menanggapinya. Masih banyak lagi pertanyaan dan pernyataan yang kedengarannya tidak masuk akal. Akhirnya karena keseringan, saya sudah terbiasa. Dan menganggap semua itu nyanyian pengantar tidur.

Sejatinya rumah itu adalah tempat di mana hati kita berada. Tempat di mana kita merasa nyaman dan merasakan kedamaian di dalamnya. Rumah yang selalu dijadikan tempat pulang karena ada celoteh anak kecil yang kerap terdengar. Adalah Ekal dan Afnan. Mereka adalah keponakan-keponakan yang selalu saya rindukan jika jauh dari rumah. Mereka alasan-alasan saya untuk tidak bisa jauh dari Sinjai. Mereka-mereka inilah yang membuat rumah ini semakin semarak.

Tanggal tujuh belas besok adalah penentu, apakah rumah ini akan tetap di tempati selama 5 tahun ke depan atau harus kembali ke rumah yang sebenar-benarnya rumah.

Advertisements