Masa Lalu Tidak Harus Menjadi Masa Depan

Tidak terasa 8 minggu ngeblog sudah memasuki minggu ke-lima. Lagi-lagi tema minggu ini membuat saya sedikit ragu, apakah saya bisa melanjutkan perjuangan untuk minggu ini. Saya hanya mempunyai waktu dua hari lagi untuk menyelesaikan tulisan ini, karena untuk seminggu ke depan sepertinya saya agak sedikit susah berkompromi dengan koneksi internet. Sejak playbook masuk bengkel, hanya blackberry yang dapat saya andalkan disaat sedang mobile. Biasanya yang menemani hari-hari berselancar di dunia maya adalah playbook dibantu dengan blackberry kesayangan yang sudah mulai butut. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ke-lima dengan tema cinta pertama.

Well…setiap mendengar kata-kata “cinta pertama” yang terbersit di pikiran adalah cinta manusia kepada lawan jenisnya. Mungkin di antara 238 juta penduduk yang ada di Indonesia, semuanya pernah merasakan bagaimana sensasinya cinta pertama. Bahkan menganggap bahwa cinta pertama itu takkan pernah mati? Saya kemudian diam dan berfikir “apa betulkah pernyataan itu?”  Seperti kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta, kita berpikir bahwa hubungan ini akan bertahan terus dan ini merupakan cinta sejati. Namun bagaimana bila cinta itu kandas? Maka jika semua itu terjadi, yang ada di pikiran adalah rasanya pengen mati saja.

Bagi orang yang mempunyai jiwa melankolis, kenangan akan  cinta pertama selalu membekas di hati. Bahkan ketika luka itu sembuh, bekasnya akan tetap tersimpan. Setiap ada sesuatu yang mengingatkan kita kepada dia, entah itu tempat yang sering dikunjungi berdua, benda-benda, ataupun hal-hal kecil yang sering dilakukan bersama. Tanpa disadari semua itu membangkitkan kenangan. Tapi apakah kita akan terus terpaku dengan kenangan masa lalu? Ngga kan? Hidup ini terus berjalan dan akan selalu ada kejutan-kejutan yang menanti kita.

Lalu bagaimana dengan saya? Saya jadi bingung mau menulis apa tentang kenangan cinta pertama. Saya tidak tahu apa saya termasuk kategori melankolis atau bukan. Mengenalnya pada saat memakai seragam abu-abu di bangku kelas satu. Pun semua datangnya tanpa saya sadari. Dan saat momen yang tidak tepat. Dikenalkan oleh kakak saya sendiri, bertepatan saat salah satu paman kami berpulang. Singkat cerita, kami berkenalan. Dan parahnya dia ternyata masih keluarga dekat dengan saya. Gubraks! Jarak usia kami terpaut jauh. Saya tidak serta merta menerima dia begitu saja. Butuh proses panjang untuk mengatakan kata “iya”. Ada perasaan yang beda sejak pasca perkenalan itu. Semua bercampur jadi satu, mungkin itu yang disebut dengan jatuh cinta. Dia bagi saya mungkin cinta monyet, tapi saya bagi dia hanyalah bagian dari koleksinya.

Saya percaya cinta itu datang tanpa mengenal waktu. Meski saya tahu cinta pertama tidak harus selalu berakhir indah. Bahkan kebanyakan cinta pertama harus berujung dengan sakit hati. Lalu bagaimana dengan kami? Hubungan yang kami jalani adalah hubungan layaknya anak remaja yang sedang jatuh cinta. Semuanya serasa indah meski kami terpisah jarak. Hanya surat yang mewakili perasaan masing-masing. Hanya pada saat dia liburan kami bisa bertemu lagi. Entah saya yang terlalu lugu sehingga tidak pernah sekalipun merasa curiga. Well… setidaknya semua berjalan mulus hingga pada akhirnya kami menyerah dengan hubungan jarak jauh itu.

Sembilan tahun hubungan jarak jauh itu kami lakoni. Dalam rentang waktu sembilan tahun itu banyak figur-figur baru bermunculan. Pun begitu juga dengan dia. Makanya sebuah keputusan yang sangat bijaksana jika kami saling melepaskan satu sama lainnya.

Terkadang saya masih mengingatnya tapi tidak pernah berniat untuk mengulang cerita lalu kami. Meski jalan untuk menuju ke sana terbuka lebar. Pun dia masih selalu mengirimkan sinyal-sinyal itu tapi saya selalu menampiknya. Tidak mau mengulang kesalahan masa lalu. Terlalu banyak penghianatan yang mewarnai perjalanan kami. Cukuplah masa lalu itu menjadi cerita  dan bukan untuk menjadi masa depan. Bagi dia, juga bagi saya. Pengalaman cinta pertama mungkin adalah sebuah kenangan indah, tetapi ia tidaklah sebanding dengan cinta sejati yang datang kemudian. Cinta pertama belum tentu menjadi cinta sejati, karena nyatanya cinta itu akan membawa kita pada jalan untuk menemukan cinta sejati.

 *****

Bagaimana dengan kamu, apakah  masih teringat dengan cinta pertamamu?  Jangan sampai pikiran dan kenangan kamu tentang cinta pertama yang justru menghalangi kamu untuk jatuh cinta lagi dan menemukan cinta sejatimu.

Advertisements

18 thoughts on “Masa Lalu Tidak Harus Menjadi Masa Depan

  1. “Jangan sampai pikiran dan kenangan kamu tentang cinta pertama yang justru menghalangi kamu untuk jatuh cinta lagi dan menemukan cinta sejatimu.” Sepakaaaaaaaaaaat…. Masalalu hanya lah kenangan yang tak harus membuat berat meangkah kan?

  2. Entah mau koment apa bela, hehhe,
    Ngakak juga dan Suka lihat gambarnya yang positif, bahwa memang masih banyak jumlah manusia di negeri ini, hehhee

    intinya bahwa hubungan manusia terus bergerak, kalau ngak cocok yang satu, yang lain masih ada, mantap.. heheeh

    salamaki’

  3. hampir sm dgn kisahku, 6 thn pacaran dak jadi jg, keluarga sdh jumpa2 tp namax jodoh di tangan Tuhan malah jadinya dgn yg baru kenalan sekitar 6 bulan saj, hehehehehe 😀

  4. hallo mba, pernah LDR juga ya? pengalaman cinta LDR saya alhamdulillah berakhir dipelaminan hehe, 3 tahun jarak jauh jabar-jatim. klo cinta pertama bener2 cinta monyet, suka ketawa klo nginget cinta pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s