Pulang

Dalam hidup ini, manusia selalu diperhadapkan pada dua pilihan dan dua sisi kehidupan. Dan ketika diharuskan untuk memilih maka pilihan itu yang akan menentukan menjadi seperti apa kita kelak. Kehidupan di dunia ini tak akan pernah dilalui tanpa pilihan. Kata hati dan akal pikiran akan selalu menempatkan setiap individu untuk memilih dan memilah mana yang terbaik. Namun semua itu tidak sesederhana yang dipikirkan untuk  memutuskan satu dari dua pilihan. Karena semua itu bukan merupakan hal mudah. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, pekan keenam.

Tidak terasa sudah ± 6 tahun saya kembali menjadi warga Sinjai. Sebelumnya tidak pernah terfikir untuk pulang kampung. Terlalu banyak rencana dan cita-cita yang menggantung. Tetapi apa mau dikata, semuanya hanya tinggal rencana. Dan di sinilah saya sekarang. Awalnya, saya merasa berat dan tidak merasa nyaman menjalani hidup yang tidak sesuai dengan keinginan. Berat karena harus meninggalkan teman-teman yang sudah menjadi bagian dari hidup saya. Teman-teman yang bukan hanya sekadar teman, tetapi mereka sudah seperti keluarga saya sendiri.

Well…setelah melewati berbagai macam pertimbangan, akhirnya saya memilih pulang dan meninggalkan Makassar.  Pulang bukan berarti saya menyerah dengan semua angan dan cita-cita yang sudah saya gantungkan. Tetapi lebih kepada berusaha untuk menyenangkan orang tua. Saya belajar untuk keluar dari zona nyaman yang telah saya buat sendiri.

Seiring waktu dan semakin bertambah dewasa, saya akhirnya bisa menikmati ritme hidup yang baru di kota kecil ini. Mulai kembali membuka diri, bergaul dengan komunitas-komunitas yang ada serta menemukan kembali teman-teman lama. Dan tentunya selalu merasa nyaman karena dikelilingi oleh keluarga yang selalu ada disaat saya membutuhkan mereka. Saya selalu percaya kata-kata “kemana pun kaki melangkah, pasti akan selalu ingat pulang”

Teringat beberapa tahun lalu, saat saya nekad untuk bekerja ke luar negeri. Tujuan saya saat itu adalah Jepang. Ada seorang teman yang telah mengenalkan saya dengan seorang agen yang bisa mengurus saya agar bisa bekerja di Jepang. Meski saat itu  sempat ditentang oleh keluarga besar, tapi saya tetap nekad. Bukan saja keluarga yang keberatan, pun sahabat-sahabat  juga tidak ada yang mendukung. Tapi karena saya sudah tidak bisa menerima semua masukan, akhirnya mereka pasrah saja dan menuruti semua apa yang telah menjadi keputusan saya waktu itu.

Singkat cerita, semua berkas saya siapkan. Semua proses saya ikuti tahap demi tahap. Saya bahkan ke Jakarta untuk beberapa lama demi melengkapi semua berkas yang harus saya siapkan. Pun paspor sudah siap. Tapi ternyata takdir berkata lain. Agen yang mengurus keberangkatan saya ke Jepang kabur entah ke mana. Saya ternyata ditipu. Lemas sekujur tubuh saat tahu saya tertipu. Dalam hati saya berkata “ini balasan atas dosa yang saya lakukan karena telah menentang orang tua sendiri”. Juga mengutuk orang yang telah membuat saya nekad meninggalkan semuanya. Ada seseorang yang punya andil dibalik semua kenekatan saya untuk ke Jepang. Karenanya, akal sehat saya tidak bekerja sesuai dengan yang semestinya.

Semua itu takdir yang harus saya jalani. Tidak perlu berlama-lama menyesali apa yang sudah terjadi. Mencoba menerima apa yang telah di berikan-Nya. Meski saya merasa itu terkadang sulit untuk dilalui. Tetapi sang pemberi hidup tidak pernah tidur. DIA tidak akan memberikan cobaan kepada manusia jika tak mampu melewatinya. Karena hidup selalu berputar, sebab itulah manusia tak pernah tahu apa yang akan terjadi di saat nanti.

Terlepas dari semua yang telah terlewati, saya menemukan hikmah atas semua kejadian. Tidak berhasil merantau ke luar negeri, pun pulang kampung menjadi pilihan. Dan bekerja di bidang yang mengurusi ketenagakerjaan. Tidak berhasil menjadi TKI tapi mengurusi calon TKI yang akan bekerja di luar negeri. Hidup itu memang misteri.

Seandainya waktu itu saya berhasil ke Jepang, saya tidak tahu apa yang terjadi. Apa saya bisa sukses atau sebaliknya.Bisa jadi hidup saya tidak tenang karena berangkat dengan cara ilegal. Setelah gagal ke Jepang, saya kembali ke Makassar. Bergabung dengan teman-teman Anging Mammiri. Menemukan teman-teman baru dan keluarga baru. Perasaan sedih dan kecewa karna gagal ke Jepang tak berlangsung lama. Karna di Anging Mammiri saya bisa menemukan hal-hal baru dan pengalaman baru. Tetapi semua itu tidak berlangsung lama karena saya harus pulang ke Sinjai. Dari sisi baiknya, saya bisa bekerja di kampung sendiri dan dekat dengan keluarga. Dari sisi buruknya, saya jauh dari teman-teman Anging Mammiri. Tentunya saya akan banyak ketinggalan gosip terbaru dan jauh dari kota. Namanya tinggal di dati II itu semuanya serba terbatas. Terlepas dari semua itu, saya selalu mensyukuri untuk semua yang telah saya dapatkan dan nikmati.

Seperti itulah dua sisi kehidupan, senang dan sedih terbentang di hadapan kita. Seperti dua sisi mata uang, selalu ada dan datang silih berganti dalam kehidupan ini. Dan kita berada di salah satu sisi mata uang itu.

Advertisements