ABFI 2013 : Behind The Scene

Kantuk masih enggan untuk beranjak. Mata perlahan terbuka, pun badan masih terasa pegal. Saya tercenung sejenak, mencoba mengingat di mana gerangan saya berada. Perlahan-lahan memori mulai mengalir masuk ke otak, tersadar ketika nyawa kembali terkumpul setelah melewati beberapa keping mimpi. Saya berada di Solo. Tersentak, ketika menyadari teman sekamar saya sudah tidak ada. Ternyata saya hanya sendiri di kamar hotel yang luas ini. Jam menunjukkan pukul 07.30 kala itu. Rasa capek semalam masih belum juga hilang. Bergegas ke kamar mandi untuk membasuh badan dengan harapan merasa segar setelah diguyur air hangat. Setelah mandi, saya mencoba menghubungi Rara melalui WhatsApp, ternyata dia pun masih tidur. Nanie dan kang Iwok sudah berangkat lebih dulu ke venue di Kusuma Sahid Prince Hotel.

Setelah rapi, saya menyusul Rara ke kamarnya yang ada di lantai delapan. Sesampainya di sana, room matenya pun masih selimutan. Kata Rara, si room matenya yang dari Kamboja semalam begadang karena menyelesaikan bahan presentasi yang akan dibawakan esok harinya. Sempat ketiduran di sofa saat menunggu Rara kelar mandi. Kicauan di linimasa dengan hastag #ABFI sudah ramai sejak tadi. Sesekali saya ikut nimbrung. Opening ceremony sudah dimulai dan saya masih di hotel, sarapan cantik bersama Rara dan Ragil. Well….kami terlambat. Setelah sarapan cantik kelar, kami pun bergegas ke venue dengan menumpang becak. Jarak dari Hotel Sahid Jaya ke Kusuma Sahid tidaklah terlalu jauh. Kami hanya membayar sepuluh ribu rupiah untuk sampai ke sana. Tetapi karna penumpangnya adalah saya dan Rara, maka si abang becak meminta sedikit tambahan….hmmm baiklah….kami cukup tahu diri koq pak! 😀

Sesaat setelah tiba di venue, saya segera registrasi di meja panitia untuk memastikan kehadiran saya di hari pertama. Dari meja registrasi, saya menuju booth wifi.id untuk mengambil jatah spin voucher sebanyak tiga lembar untuk mengakses layanan internet selama event terlaksana. Saya, Rara dan Ragil pun bergabung  di Tirta Sari ruangan di mana event berlangsung. Kami telah melewatkan sesi opening ceremony.

IMG_1967

Tak lama saat kami tiba di venue, waktunya untuk coffe break. Karna masih merasa kenyang setelah breakfast di hotel, saya tidak menyentuh sama sekali snack yang tersedia. Acara hari kedua diisi dengan seminar-seminar. Yang namanya acara seminar, sedikit banyaknya pasti membosankan. Tapi ada sesi seminar yang cukup  menarik buat saya. Meskipun memakai bahasa Inggris tapi saya bisa paham dan mengerti apa yang disampaikan beliau. Adalah Prof Hermawan Kartajaya yang membawakan materi tentang Blogger dan Marketing. Sesi ini bisa dibilang paling seru dan peserta paling antusias. Presentasi yang dibawakan beliau sangat menarik. Blogger itu merupakan seorang yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata. Blogger adalah seorang penulis, blogger juga seorang editor dan yang paling penting adalah blogger itu juga seorang marketing pada tulisan yang sudah kita edit dan terbitkan dalam blog kita. Jadi intinya blogger itu butuh marketing, pun marketing butuh blogger. Prof Hermawan tampil sempurna dan mempesona serta mampu menghipnotis para peserta dengan retorikanya.

Seusai Prof Hermawan membawakan presentasinya, waktu untuk shalat Jumat pun tiba. Sembari menunggu para kaum lelaki Jumatan, kami para perempuan menyempatkan diri untuk saling mengenal dengan blogger lainnya. Dan yeay….mba Indah Juli membagikan goodie bag. Oh yah pada momen ini juga saya akhirnya bisa face to face dengan @honeylizious blogger dari Pontianak. Hani ini orangnya rame dan heboh, kelihatan dari gerak-geriknya *kemudiandipentung* Keakraban para peserta terlihat pada saat acara makan siang. Semua bergabung menjadi satu. Yang belum kenalan, saling kenalan.

Dan lagi-lagi Partner in Crime mulai beraksi setelah acara makan siang. Menunggu waktu pukul dua siang sembari berkeliling kota Solo. Saya, Rara, Nanie, Kang Iwok dan Ragil memanfaatkan waktu yang ada. Kami mencari kuliner khas Solo. Pun Serabi Notosuman menjadi target. Di kota Solo memang banyak pembuat serabi, namun yang paling terkenal adalah Serabi Notosuman. Aroma khas serabi menyambut kedatangan kami. Dilihat dari bentuk dan teksturnya, serabinya pasti enak. Begitu yang ada di pikiran saya ketika pertama kali melihat proses pembuatannya.

Serabi Notosuman Ibu Lidya

Serabi Notosuman Ibu Lidya

Setelah puas melihat-lihat proses pembuatan serabi, kami pun mengorder untuk kami nikmati di situ. Selain serabi yang dijual, juga ada jenis ole-ole khas Solo lainnya yang tersedia di toko itu. Nama tokonya adalah Serabi Notosuman Ny Lidya. Tebakan saya tidak salah, serabinya top markotop. Maknyus kata pak Bondan. Serabi Notosuman terasa gurih dan legit di lidah. Sangat berbeda dengan serabi yang pernah saya coba di Bandung. Serabi Notosuman hanya mempunyai dua macam rasa yaitu original dan topping coklat. Sayangnya serabi ini hanya tahan sampai 24 jam, sehingga sangat riskan jika harus membawa pulang sebagai ole-ole.

slurpppp.....

slurpppp…..

Kami pun beranjak setelah puas menikmati serabi fenomenal itu. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Rasanya nanggung jika harus kembali ke hotel Kusuma Sahid *mencari pembenaran agar bisa kabur* Sudah pasti kami melewatkan beberapa sesi acara lagi. Kami pun memutuskan untuk mengeksplore kota Solo. Pasar klewer tujuan kami selanjutnya, tetapi setelah tiba di sana rasanya malas untuk turun. Panas matahari yang menyengat membuat kami mengurungkan niat untuk berburu batik. Setelah batal berburu batik, kami memutuskan untuk mengunjungi Keraton Kasunanan Hadiningrat. Sesampai di sana ternyata waktu untuk berkunjung telah usai. Akhirnya kami hanya mengambil gambar sekitar keraton. Aktifitas penduduk setempat menjadi bidikan kamera kami.

Tak afdol rasanya ke Solo tanpa melihat secara langsung icon kota ini. Adalah Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di pulau Jawa dengan dua hulu sungai yaitu dari daerah pegunungan kidul Wonogiri dan Ponorogo yang selanjutnya bermuara di daerah Gresik. Bengawan dalam bahasa Jawa yang mempunyai arti “sungai yang besar”.

Bengawan Solo

Bengawan Solo

Well..tujuan kami selanjutnya adalah blusukan ke Bengawan Solo. Sesampai di sana, kami saling tatap dan saling menertawai. Kenapa? Kami membayangkan di sekitar Bengawan Solo ada sesuatu yang menarik seperti taman yang asik buat nongkrong. Ternyata di sana hanya ada sungai yang airnya coklat. Setidaknya kami sudah melihat seperti apa Bengawan Solo yang terkenal dengan lagu ciptaan Gesang itu. Mengabadikan setiap momen yang ada tentunya sudah menjadi kebiasaan saya. Pun saat berada di Bengawan Solo, foto-foto itu sudah tak dilewatkan begitu saja.

Hari beranjak sore ketika kami meninggalkan Bengawan Solo. Saatnya untuk kembali ke Kusuma Sahid untuk bergabung bersama teman-teman lainnya. Jarak dari Bengawan Solo hingga ke Kusuma Sahid menghabiskan waktu kurang lebih tiga puluh menit. Lumayanlah untuk memejamkan mata yang sedari tadi minta untuk diistirahatkan barang sebentar saja. Saat terbangun, ternyata saya sudah berada di suatu tempat tetapi bukan di Kusuma Sahid. Tempat itu semacam aula seni di mana banyak anak-anak yang sedang berlatih tari-tarian. Solo memang terkenal dengan kota budaya. Saya pun dibuat kagum dengan keseriusan anak-anak ini berlatih tari. Mereka sangat menjunjung kebudayaannya. Hal yang sangat langka ditemukan seperti itu di Makassar. Puas menonton anak-anak itu berlatih, kami pun beranjak untuk pulang ke Kusuma Sahid.

soloSesampai di Kusuma Sahid, kami disambut tatapan penuh makna dari Mba Indah Juli 😀 Sebelum kena timpuk, saya kabur lebih dulu ke ruangan bergabung dengan teman-teman lainnya. Biarlah Kang Iwok yang menghadapi interogasinya *semoga Mba Injul ga baca postingan ini* hahahaha……

Dan saat kami tiba di ruangan, sesi terakhir sore itu sebentar lagi berakhir. Pertunjukan musik performance oleh band indie yang keren menurut saya menjadi penutup sore yang sangat melelahkan itu. Pulang ke hotel Sahid Jaya untuk istirahat sebentar.

Saat malam tiba, badan pun segar setelah menikmati guyuran air hangat. Tentunya semangat lagi untuk memulai aktifitas malam. Menelusuri jalan dengan berjalan kaki menuju Pendopo Pura Mangkunegaran, untuk menyaksikan pertunjukkan Mangkunegaran Performing Art. Mangkunegaran Performing Art merupakan pertunjukan kesenian yang menampilkan berbagai jenis tari dan seni lainnya karya Trah Mangkunegaran.

Mangkunegara Performing Art

Mangkunegara Performing Art

Setelah puas menyaksikan pertunjukkan Mangkunegaran Performing Art, pasukan Partner in Crime melanjutkan misi jalan-jalan  menikmati kota Solo pada malam hari dengan mencari kuliner. Dengan menumpang becak, kami berkeliling kota Solo. Oh yah jalan-jalan kali ini, pasukan kami bertambah. Jun , blogger dari Philipina ikut bergabung bersama kami.

Kami dibawa abang becak ke daerah yang banyak lesehan. Duh lupa dengan nama jalannya. Di sana berbagai macam jajanan banyak tersedia. Kami masuk ke salah satu lesehan. Dan wow….lesehannya tidak memakai meja. Sepertinya ada yang tersiksa dengan duduk lesehan tanpa meja. Kelihatan dari gaya duduknya yang gelisah. Beruntunglah saya lincah mencari tempat yang ada sandarannya. Setidaknya sedikit lebih nyaman daripada tidak ada sandaran sama sekali.

Burung dara bakar menjadi pilihan menu makan malam saya. Rasanya lumayan enak dan mengenyangkan. Malam kedua di Solo dilewati dengan segudang cerita dan kenangan. Pengalaman baru, teman-teman baru dan keseruan-keseruan yang selalu akan dikenang. Setelah menandaskan makanan yang kami pesan, kami pun beranjak pulang dengan iring-iringan becak menuju hotel tempat kami menginap.

Photo by Jun

Photo by Jun

Advertisements

3 thoughts on “ABFI 2013 : Behind The Scene

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s