Perempuan dari Karampuang

Tidak perlu berfikir lama ketika mendapat tawaran dari Ana sepupu saya untuk menemaninya ke lokasi penelitiannya.Bukan penelitian yang menghipnotis saya sehingga tertarik untuk ikut tetapi lokasi penelitiannya yang membuat saya untuk tidak melewatkan tawaran itu.Dari rencana semula, seharusnya kami berangkat sejak pagi. Tetapi karena masih ada beberapa urusannya yang belum rampung sehingga kunjungan ke lokasi penelitiannya harus tertunda hingga sore.

Adalah rumah adat Karampuang menjadi judul skripsi Ana agar bisa meraih gelar sarjananya di STKS Bandung. Dan itu menjadi sebuah kebetulan buat saya yang sama sekali belum pernah menjejakkan kaki di sebuah dusun adat yang terletak di desa Tompobulu Kecamatan Bulupoddo. Desa ini berjarak kurang lebih 40 kilo meter dari ibukota Kabupaten Sinjai. Tak dapat dipungkiri, Sinjai merupakan daerah yang kaya akan potensi wisata yang sangat menjanjikan. Meski harus diakui, pengelolaannya masih sangat minim.

Karampuang merupakan sebuah dusun sekaligus nama komunitas adat. Di tengah bukit berbatu, kawasan adat Karampuang berada. Masyarakat yang berdomisili di dusun itu masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Masyarakat karampuang membentuk sebuah komunitas sendiri dan secara tertutup menjalankan aturan adat yang telah diajarkan oleh leluhur mereka. Meskipun demikian, dalam kesehariannya komunitas Karampuang berbaur dengan masyarakat sekitar. Karampuang diambil dari kata Karaeng dan Puang.

Penamaan ini akibat dijadikannya lokasi itu sebagai pertemuan antara Kerajaan Gowa yang mempunyai gelar Karaeng dan Kerajaan Bone dengan gelar Puang. Hari beranjak sore ketika kami menelusuri jalan yang berkelok-kelok menuju Karampuang. Excited itu sudah pasti secara ini kali pertama saya mengunjungi desa yang terkenal dengan adat istiadatnya yang masih kental. Meski masih di wilayah Sinjai tetapi akses untuk ke sana sangat susah. Harus ditempuh dengan kendaraan pribadi. Menjadi tantangan tersendiri jika harus melewati lembah dan jurang yang terjal. Saya yang phobia ketinggian agak merasa was-was dan sesekali gemetaran jika memandang ke bawah sana.

Ekal keponakan saya yang ikut dalam trip ini merasa excited melihat pemandangan di sekitar. Tak henti-hentinya dia mengoceh.Sekejap melupakan phobia yang saya derita karena sibuk menjawab semua pertanyaan Ekal. Mobil yang kami tumpangi melaju pelan membelah gunung yang bernama Bulu Tellue. Sesekali tergoncang hebat jika mendapat tanjakan yang berbatu. Jalanan yang sempit, jurang yang terjal serta hujan mulai membasahi bumi melengkapi sempurnanya perjalanan kami.

Kurang lebih satu jam kami tiba di gerbang kawasan adat Karampuang. Rintik hujan semakin menderas, untungnya selalu ada payung tersedia di mobil. Ekal ditinggal bersama Ta’ Hemma di mobil. Hanya saya, Ana dan Daeng Reni yang masuk ke rumah adat. Untuk memasuki kawasan rumah adat, harus ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 300 meter dari ujung jalan. Suasana hutan yang sepi menyambut kedatangan kami. Banyak pohon-pohon menjulang tinggi serta bebatuan-bebatuan. Bulu kuduk meremang melihat pemandangan sekitar. Efek hujan yang menambah dramatisirnya trip ini.

Medan yang dilalui cukup berat, bebatuan yang curam serta licin akibat hujan yang terus mengguyur. Salah melangkah bisa berakibat fatal. Adrenalin terpacu saat harus memanjat bebatuan yang licin. Saya hampir saja menyerah, tapi saya urungkan demi rasa penasaran yang sudah lama terpendam. Ada rasa bahagia tatkala melihat atap rumah adat dari kejauhan. Itu pertanda sebentar lagi akan sampai. Sayangnya sesampai di rumah adat, kami tak mendapati si empunya rumah. Sembari menunggu si empunya rumah, kami bernaung di bawah kolong rumah adat.

Tak lama berselang muncullah seorang kakek-kakek menyapa kami. Si kakek sempat bertanya maksud kedatangan kami. Setelah menjelaskan semuanya, si kakek lalu mengajak kami untuk berkunjung ke rumahnya. Mungkin si kakek kasihan melihat kami yang menggigil kedinginan. Kami menurut saja mengikuti ke mana kakek melangkah. Rumah kakek itu ternyata sama persis dengan rumah adat yang sebelumnya. Dalam hati saya menebak kalau si kakek ini punya kendali dalam kawasan rumah adat ini. Setelah dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah adat, kami pun bergegas.

To Matoa To Matoa

Rumah adat Karampuang berbentuk rumah panggung seperti bentuk rumah adat bugis pada umumnya. Atapnya terbuat dari rumbia. Rumah adat Karampuang ini mempunyai model pintu lain dari yang lain. Kebanyakan rumah bugis memiliki tangga dan pintu di bagian depan rumah atau menyamping searah lebar rumah, tetapi rumah adat Karampuang tidak demikian. Rumah adat ini memiliki pintu masuk tepat berada di tengah-tengah rumah. Setelah menapaki beberapa anak tangga, kami disambut dengan dapur. Wow…rasanya semakin tak sabar untuk bertanya kepada si kakek tentang makna yang terkandung di dalam peletakan ruang pada rumah itu.

Kami pun dipersilahkan duduk pada sebuah ruangan yang luas. Ruangan itu semacam ruang untuk menerima tamu. Meski hari belum gelap, tetapi suasana dalam rumah sangatlah gelap. Pikiran tentang tidak adanya jaringan listrik di kawasan ini, saya tepis. Karena setelah mendonggak ke sekitar rumah, ada beberapa kabel dan saklar yang menempel pada dinding. Percakapan pun dimulai setelah kami dipersilahkan untuk duduk. Saya bertanya kepada si kakek siapa gerangan dirinya. Si kakek menjelaskan bahwa dirinya orang yang dituakan di kawasan adat Karampuang atau biasa disebut dengan Arung. Arung merupakan pemimpin masyarakat adat Karampuang yang berhak tinggal di Toma Toa. Toma Toa atau rumah tua yang dipercaya sudah ada sejak abad ke-17 merupakan istana bagi Arung.

Sejatinya sebuah istana kerajaan selalu terlihat megah dan gemerlap, tapi tidak dengan istana di kerajaan Karampuang ini. Istana hanya berupa dua buah rumah panggung beratap rumbia yang sangat sederhana, pun penampilan para raja dan pejabatnya terlihat sangat sederhana dan yang tak bisa dibedakan dengan warga biasa.

Rumah adat Karampuang adalah simbolisasi dari tubuh perempuan. Peletakan pintu yang berada di tengah melambangkan simbol kemaluan perempuan. Pintu masuk tersebut dinamakan batu lappa. Karena posisi pintu yang rata dengan lantai rumah, maka untuk membukanya harus di dorong ke atas atau menolaknya ke atas untuk menggeser pemberat yang terikat dengan pintu. Pintu ini memiliki gembok dari batu, ini bermakna bahwa kehormatan seorang perempuan harus dijaga dan dikunci rapat-rapat sebab kehormatan perempuan di Karampuang adalah simbol dari kehormatan negeri itu.

Peletakan dapur yang menghadap pintu pada rumah adat Karampuang disimbolkan sebagai buah dada perempuan. Simbol ini memiliki makna sebagai sumber kehidupan manusia, di mana dari dapurlah segala makanan dimasak dan dipersiapkan untuk kemudian disantap. Seperti layaknya perempuan, rumah ini dihiasi ukiran kayu yang disebut bate-bate kanan dan bate-bate kiri sebagai simbol telinga perempuan yang memakai anting. Selain itu lantai yang ditinggikan dan diletakkan di bagian depan dan bagian belakang rumah yang disebut dengan sonrong. Sonrong ini disimbolkan sebagai pundak perempuan. Sebagai pelengkap simbol-simbol perempuan, maka rumah adat Karampuang dihiasi dengan rambut yang terbuat dari serat enau dan dililitkan di bubungan rumah, serta dipasangkan timpa laja yang melambangkan simbol mata dan mulut perempuan.

Yang menarik juga, lantai rumah adat Karampuang terbuat dari anyaman bambu yang belah kecil-kecil dan diikat satu sama lainnya seperti tenunan kain. Lantai tersebut membentuk lima petak dengan posisi lebih rendah dari sonrong. Ruangan ini biasanya disiapkan bagi para tamu atau tempat berkumpul ketika rapat adat dilaksanakan. Jumlah tiang yang tertancap pada rumah adat ini sebanyak tiga puluh tiang yang melambangkan jumlah tiga puluh juz dalam Al-Quran.

Puang Gella Puang Gella

Dalam kehidupan masyarakat Karampuang terdapat empat jabatan struktural pemangku adat dengan istilah ade’ eppa’e yang artinya adat empat. Terdiri dari Arung yang biasa disebut dengan To Matoa yang artinya raja yang dituakan, Gella adalah pelaksana tugas raja, Sanro adalah orang pintar yang mempunyai keahlian dalam mengobati orang sakit dan juga bertugas memimpin ritual-ritual adat. Sanro ini berjenis kelamin perempuan. Maka Guru mengurusi hal-hal spiritual terkait ritual keagamaan. Kehadiran kawasan adat Karampuang tak lepas dari peranan penting perempuan. Konon kabarnya asal mula ditemukannya kampung ini berasal dari seorang To Manurung yang berjenis kelamin perempuan.

Begitu sangat berharga sosok perempuan dengan segala perannya di komunitas adat ini sehingga rumah-rumah adat mereka juga menyimbolkan perempuan. Posisi perempuan sebagai Sanro dalam Ade’ Eppa’e yang diberikan kewenangan memimpin suatu upacara ritual di Karampuang tentunya menjadi sesuatu hal yang menarik. Artinya Karampuang sebagai sebuah komunitas adat tradisional sudah menyadari persamaan gender. Kayu dari pohon ini yang dijadikan tiang pada Rumah Adat Karampuang Kayu dari pohon ini yang dijadikan tiang pada Rumah Adat Karampuang

Well….rasa penasaran tentang Karampuang terbayar setelah mengunjunginya. Setidaknya saya sudah tahu seperti apa kawasan itu. Meski masih tersisa rasa penasaran tentang pelaksanaan ritual Mappogau Hanua. Ritual yang diselenggarakan pada bulan November setiap tahunnya ini merupakan event kedaerahan yang sangat menarik bagi yang ingin berkunjung ke sebuah destinasi wisata budaya di Sinjai. Penasaran dengan ritual-ritualnya? Yuk…. ke Karampuang bulan November nanti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s