#PaluTrip : Mencecap Rasa Khas Kuliner Palu

Bepergian ke suatu tempat tidaklah afdol jika tidak menjelajah kulinernya. Palu tak hanya punya kaledo, pun makanan khas lainnya masih banyak bertebaran dan layak untuk dicoba. Selama masih punya waktu maka nikmatilah apa yang ada di depan matamu. Nah makan apa saja selama di Palu? Continue reading

#PaluTrip : Menuntaskan Rasa Penasaran pada Kaledo

Banyak teman bertanya kenapa memilih Palu sebagai destinasi jalan-jalannya. Apa yang menarik di Palu sampai harus bela-belain ke Palu. Sepertinya ada yang salah kalau memilih destinasi jalan-jalan ke tempat yang tidak terlalu terkenal. Padahal liburan ataupun jalan-jalan ke manapun judulnya tetap jalan-jalan. Apalagi bersama dengan sahabat-sahabat tertjinta. Tsah….

Continue reading

ABFI 2013 : Behind The Scene

Kantuk masih enggan untuk beranjak. Mata perlahan terbuka, pun badan masih terasa pegal. Saya tercenung sejenak, mencoba mengingat di mana gerangan saya berada. Perlahan-lahan memori mulai mengalir masuk ke otak, tersadar ketika nyawa kembali terkumpul setelah melewati beberapa keping mimpi. Saya berada di Solo. Tersentak, ketika menyadari teman sekamar saya sudah tidak ada. Ternyata saya hanya sendiri di kamar hotel yang luas ini. Jam menunjukkan pukul 07.30 kala itu. Rasa capek semalam masih belum juga hilang. Bergegas ke kamar mandi untuk membasuh badan dengan harapan merasa segar setelah diguyur air hangat. Setelah mandi, saya mencoba menghubungi Rara melalui WhatsApp, ternyata dia pun masih tidur. Nanie dan kang Iwok sudah berangkat lebih dulu ke venue di Kusuma Sahid Prince Hotel. Continue reading

Sensasi Irex dan Seafood ala Sinjai

Karna saya adalah tukang makan maka setiap kali ke suatu tempat hal yang paling pertama saya cari adalah makanan khas daerah tersebut. Dan ketika mendengar kata “wisata” maka yang terlintas di pikiran saya adalah “wisata kuliner”. Saat melakukan perjalanan ke berbagai tempat, jika ada waktu luang saya lebih senang berburu kuliner dibanding mencari tempat wisata lainnya. Mau bagaimana lagi kalau dari sananya memang sudah melekat julukan sebagai tukang makan.

Irex ala Sinjai

Irex ala Sinjai

Sinjai merupakan tanah kelahiran dan tempat saya sekarang berdomisili. Sebuah kota kecil yang berjarak 223 km dari Makassar. Setiap daerah  mempunyai ciri khas tersendiri, pun begitu juga dengan Sinjai. Di Sinjai dengan mudah akan menemukan hasil laut yang segar. Secara sebagian masyarakat Sinjai mata pencahariannya adalah nelayan. Mencari wisata kuliner khas Sinjai pada malam hari  ada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lappa. Sinjai pada malam hari tidak nampak terlalu ramai. Ritme kota ini pada malam hari biasa-biasa saja. Tapi ketika berkunjung ke TPI Lappa, maka akan terlihat hiruk pikuknya keramaian para pedagang dan nelayan bertranksaksi. Kesan kumuh mewarnai area pelelangan ikan di Lappa ini.

Pemandangan kumuh, becek dan bau amis segera tergantikan dengan aroma ikan bakar yang menyengat dan membuat perut seketika bereaksi. Yang menarik dari area kuliner ini adalah pengunjung sendiri yang memilih dan  membeli ikannya. Tidak diragukan lagi kesegaran ikannya. Berbagai jenis ikan laut tersedia di area pelelangan. Mulai dari kecil sampai yang besar. Baronang, Kaneke, Cepa, Sunu, Cumi-Cumi, Udang bahkan Ikan Napoleon juga kerap tersedia. Yang selalu menjadi incaran saya dan teman-teman setiap berkunjung adalah ikan kaneke, cumi-cumi serta udang. Biasanya uang lima puluh ribu mendapatkan empat ekor ikan kaneke yang ukuran lima sampai tujuh ratus gram.

Kaneke Bakar ala Sinjai

Kaneke Bakar ala Sinjai

Suasana malam pelelangan ikan selalu ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati kelezatan ikan bakar dan nasi kuning. Terdapat warung sederhana berjejeran di sepanjang jalan masuk menuju pelelangan. Warung-warung tersebut menyediakan pembakaran ikan. Pengunjung hanya membeli nasi kuning dan ikan yang kita beli dari pelelangan tadi kemudian dibakarkan oleh mereka. Dengan cobek-cobek yang menggugah selera. Sembari menunggu ikan bakar matang, pengunjung bisa menikmati minuman khas Sinjai sebagai pembuka. Irex biasa orang menamai minuman itu. Kenapa disebut irex? Karena minuman ajaib itu yang dipercaya dapat meningkatkan stamina dan vitalitas. Irex minuman khas yang diolah secara fermentasi terbuat dari ramuan tape, madu, susu dan kuning telur.

Sensasi minuman ini  memiliki khasiat memulihkan dan menambah tenaga setelah lelah bekerja. Cara pembuatan irex tidaklah sulit. Bahan dasar yang diperlukan adalah tape singkong. Dan ditambahkan susu, telur, air kelapa, madu, sedikit tuak, buah durian dan buah-buahan lainnya. Aroma minuman ini mengikuti musim. Bila sedang musim durian, maka aroma buah durian sangat terasa di minuman ini. Semua bahan kemudian dicampur dan dihancurkan dengan blender kemudian didinginkan di dalam freezer.  Kini minuman siap dikonsumsi. Sayangnya, irex ini tidak bisa bertahan lama, karena tidak bisa diawetkan. Bila disimpan dalam lemari es, hanya dapat bertahan selama 7 hari. Irex paling cocok dikonsumsi pada malam hari. Untuk menghangatkan badan di tengah dinginnya malam.

Udang Bakar ala Sinjai

Udang Bakar ala Sinjai

Nah tunggu apalagi….jika suatu waktu berkunjung ke Sinjai, jangan lupa untuk berkunjung ke TPI Lappa. Sayangnya area kulineran khas Sinjai belum dikemas sedemikian rupa. Pemerintah daerah sepertinya belum mendapatkan ide untuk mengembangkan potensi daerahnya. Gaungnya belum terlalu gencar di social media. Dengan strategi  pengembangan dan promosi yang tepat, saya yakin wisata kuliner Sinjai akan memiliki tempat tersendiri bagi para wisatawan, melengkapi aneka wisata lainnya seperti wisata alam,wisata sejarah dan wisata budaya.