4 Juli 2015

Tidak ada satupun manusia yang tahu akan seperti apa hidup ini akan berjalan. Semua skenario yang sudah ditulis dengan lakon yang diperankan sudah rampung sebelum terlahir ke dunia  dan dikemas dalam bentuk takdir.

Lima belas tahun lalu pertemuan pertama dengannya. Ada rasa yang tak biasa hadir. Bahagia dan haru tentu saja. Seperti cerita dalam sinetron tetapi nyata terjadi dalam kehidupan yang kami perankan.

Saya adalah tipikal pendiam jika bertemu dengan orang baru. Perlu waktu untuk menyesuaikan diri sebelum berakrab-akrab lebih jauh. Tidak mau dikatakan sok kenal sok dekat sih sebenarnya. Atau saya yang terlalu menjaga image? Entahlah… Continue reading

Suatu Hari di Pontianak…

Tepat pukul enam belas lewat sepuluh menit pesawat Lion Air yg kerap delay memasuki area Kalimatan Barat. Sejauh mata memandang, nampak sungai kapuas meliuk-liuk terlihat dari atas dengan warna airnya yang kecoklatan dan hamparan sawah berjejer rapi. Pontianak, kota pertama  yang saya kunjungi di Kalimantan. Lion air mendarat mulus di bandara Supadio. Sudah tidak sabar rasanya untuk segera turun dari pesawat dan menemui kakak tercinta yang sudah menunggu di terminal kedatangan. Saya dan rombongan bergegas turun dan menuju tempat pengambilan bagasi. Bandara supadio kurang lebih sama dengan bandara hasanuddin beberapa tahun silam. Terminalnya kecil namun terlihat padat dan ramai.

Sore itu Pontianak dipayungi awan hitam, udara agak panas  pertanda sebentar lagi hujan turun. Karna saya datang bersama rombongan, mau ngga mau proses pengambilan bagasi berlangsung lama. Dari bandara kami dijemput tim penjemput yang begitu heboh dan rame. Sebenarnya tidak ada rencana untuk ke Pontianak dalam waktu dekat. Masih banyak kesibukan yang harus saya selesaikan dan tidak memungkinkan untuk jalan-jalan. Tapi karna ada rasa yang tidak bisa dihindari lagi. Rindu yang tidak terbendung dan tidak dapat ditepis. Rindu adik kepada kakaknya. Dan bertepatan dengan momen acara pernikahan sepupu yang berlangsung di Pontianak. Tidak ada alasan lagi untuk menolak tiket gratis dari tante 🙂 Dan di sinilah saya berada. Pontianak…here I come.

Kedatangan kami disambut dengan hujan yang tetiba mengguyur deras, bersamaan kami meninggalkan bandara menuju mess PU yang ada di Jalan Ahmad Yani. Kesan pertama yang saya tangkap adalah kota ini ramai dan cukup padat. Pontianak tidak begitu besar, semua jalan-jalan ini dilalui hanya dalam waktu sehari saja. Hujan yang semakin deras membuat jalanan tergenang  hingga selutut orang dewasa. Wow….bagaimana jadinya kalau hujan berhari-hari. Sepanjang jalan digenangi air dan membuat lalu lintas macet. Udara dingin membuat perut gampang lapar. Saya sudah merengek minta makan secara sebelum berangkat dari Jakarta paginya tidak sempat sarapan. Ternyata bukan saya saja yang kelaparan, semua yang semobil dengan saya juga demikian adanya. Bahagia itu sederhana ketika lapar ada mie ayam yang siap untuk disantap. Jadinya kami mampir disebuah kedai mie ayam. Rasanya cukup nikmat untuk menemani malam pertama kami di Pontianak.

Karna tujuan utamanya untuk menghadiri acara pernikahan, maka kebanyakan waktu yang dihabiskan hanya mengurus persiapan prosesi acaranya. Ternyata masih ada juga hal-hal kecil yang harus disiapkan, padahal dari Jakarta semuanya sudah lengkap. Belum lagi prosesinya memakai dua ritual adat yang berbeda. Bugis Makassar dan Melayu. Berurusan dengan adat istiadat pastinya ribet. Tapi di tengah kesibukan masih juga menyempatkan diri untuk kabur ke mana-mana.Karna ke suatu tempat tanpa memanfaatkannya untuk jalan-jalan itu merupakan kesalahan terbesar. Beruntung punya kakak yang dengan setia menjadi guide yang sabar dan mengikuti apa yang saya mau. Seharusnya  sejak dari dulu saya harus berkunjung kesini. Karna saya mempunyai ikatan emosional dengan Pontianak. Dua orang kakak saya menetap di kota ini. Saya juga tidak bisa menjawab kalau ada yang bertanya kenapa tidak dari dulu berkunjung ke kota khatulistiwa? Jawabannya klasik “sibuk” 🙂 Saya baru menyadari kedodolan itu.

Dari rencana semula, saya dan rombongan hanya punya waktu empat hari di Pontianak. Setelah prosesi nikah dan resepsi, keesokannya kami sudah harus kembali ke Jakarta selanjutnya ke Makassar. Tetapi karena kakak saya meminta agar saya bisa stay hingga beberapa hari. Saya tidak bisa menolak permintaannya, secara kami jarang bertemu. Dan pertemuan sebelumnya sepuluh tahun yang lalu tepat saat ayah kami berpulang. Well….saya pikir ini waktu yang tepat untuk lebih mendekatkan diri satu sama lainnya. Karena kesempatan itu tidak datang dua kali. Tentunya waktu untuk mengeksplorasi Pontianak juga lebih banyak. I love this moment.

Selintas mendengar nama Pontianak kedengarannya ada kesamaan kata kuntilanak. Konon sang pendiri kota Pontianak Syarif Abdurrahman sering diganggu oleh hantu kuntilanak ketika menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan dimana meriam itu jatuh, maka disanalah wilayah kesultanannya di dirikan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting, Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak.

Pontianak juga dilintasi oleh garis khatulistiwa yang ditandai dengan Tugu Khatulistiwa di Pontianak Utara. Letaknya sekitar 3 KM dari pusat kota Pontianak ke arah kota Mempawah. Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata kota Pontianak. Menurut catatan di dalam gedung ini, tanggal 31 Maret satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda datang untuk menentukan titik atau tonggak garis equator di kota Pontianak. Tanggal awal dibuat dengan anak panah. Peristiwa menarik dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari yaitu fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Setiap tanggal 21 Maret dan 23 September, bayangan tubuh akan menghilang bila tepat berdiri di titik kulminasinya. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan menghilang beberapa detik saat diterpa sinar matahari.

Ada yang kurang jika berkunjung ke suatu tempat tanpa mencoba kuliner khas daerah.  Adalah kwetiaw makanan yang paling gampang ditemui. Kwetiaw disebut Mie Tiaw,semacam mie pipih putih yang terbuat dari tepung beras. Penyajiannya bisa digoreng dan juga berbentuk kuah. Mie Tiaw disajikan dengan menggunakan daging dan jeroan sapi serta ditambahkan aksesori berbagai macam sayur seperti sawi dan tauge. Karena di Pontianak banyak etnis tionghoa, makanya banyak dari kalangan mereka yang berbisnis kuliner ini. Harus berhati-hati untuk memilih warung, karena kehalalannya diragukan. Tapi belum ada yang menggantikan mie kering dimanapun saya berada. Yang membuat kakak saya bingung ketika saya meminta untuk mencari warung mie kering. Di Pontianak mereka tidak kenal dengan mie kering 🙂

Setiap daerah mempunyai ole-ole khas, pun begitu juga dengan Pontianak. Mencari ole-ole khas tempatnya ada di jalan Pattimura. Jalan ini pusat berbagai macam ole-ole khas Pontianak. Berbagai macam bentuk ole-ole ada disana. Mulai dari makanan ringan, makanan khas hingga kulineran khas Pontianak. Kalau di Makassar, mungkin sepantaran dengan Jalan Somba Opu. Yang paling terkenal adalah lempok durian. Di jalan ini juga banyak dijual aneka produk makanan asal negeri jiran. Mungkin karena Pontianak dekat dengan Kuching. Jadi kalau berkunjung ke jalan Pattimura, siap-siap saja dompet menipis dan menenteng kardus yang dilapisi kain plastik berwarna. Well….saya semakin percaya kalau Indonesia itu memang kaya. Setiap daerah mempunyai ciri khas dan kebiasaan.

Akhirnya setelah beberapa hari menyusuri kota Pontianak tibalah saatnya untuk pulang. Sembilan hari ternyata sangat singkat. Rasanya kaki berat untuk melangkah pulang tapi keadaan memaksa untuk meninggalkan kota ini. Karna ada kehidupan lain yang harus saya jalani. Banyak cerita yang terangkai, ada kenangan yang tak mungkin terlupa serta ada ratusan gambar yang terekam oleh kamera. Yang tak terlupa adalah ini kali pertama saya lebaran jauh dari Sinjai. Tapi saya begitu menikmatinya. Terima kasih untuk hari-hari yang menyenangkan. Suatu hari nanti saya akan kembali untuk merangkai cerita selanjutnya. Sejauh kaki melangkah akan selalu ingat pulang dan setiap perjalanan akan mempunyai cerita tersendiri yang kan terbingkai menjadi kenangan.

 

Liburan Ke Tanjung Bira

Pantai Bira

Pantai Bira

Hari Sabtu kemarin saya dan keluarga berkunjung ke Tanjung Bira. Sudah lama kami berencana untuk liburan tapi baru kali ini terwujud. Bira terkenal dengan pantainya yang indah dan pasir putih yang begitu bersih dan lembut. Perjalanan dari Sinjai ke Bira menempuh waktu ± 2 jam. Sehari sebelumnya dengan semangat saya mempersiapkan segala keperluan yang akan dibutuhkan. Namun sayangnya saya tidak punya alat snorkling. Padahal untuk snorkling, Biralah tempat yang tepat. Ada sih alat snorkling yang di sewakan tapi saya merasa tidak cocok bila harus memakai bekas orang. Jadilah saya hanya bermain pasir dan berenang. Sambil foto foto pastinya.

Continue reading