3 Tahun Melangkah Bersama

Sejak memutuskan untuk pulang ke Sinjai beberapa tahun lalu, ada perasaan berat  yang mengganjal di hati. Meninggalkan Makassar dan meninggalkan teman-teman di komunitas Blogger Makassar.  Mereka yang saya anggap keluarga selama menjadi perantauan di Makassar. Mereka yang membuat hidup ini menjadi lebih berwarna. Dan pada akhirnya saya harus belajar untuk menerima kenyataan bahwa hidup itu selalu penuh dengan pilihan. Continue reading

Meluapkan Kegembiraan dengan Berwisata Kebun

Tidak harus pergi jauh untuk menuntaskan hasrat jalan-jalan. Merefleksi otak dari penat yang sudah menggumpal.

Sudah menjadi kebiasaan kami sekeluarga dalam setiap tahunnya mengagendakan untuk berkunjung ke kebun. Ceritanya sih wisata kebun :D. Seperti hari Jumat kemarin, kami kembali melakukan rutinitas tahunan itu. Hari belum terlalu siang ketika rombongan kami tiba di Lappae. Lappae adalah sebuah desa yang ada di Kecamatan Tellulimpoe yang terkenal dengan  hasil perkebunannya seperti cengkeh, kakao, rambutan, durian dan langsat. Jaraknya dari kota Sinjai sekira 25 kilometer. Mulai Maret hingga Mei, bulannya musim berbagai macam buah-buahan. Continue reading

Perempuan dari Karampuang

Tidak perlu berfikir lama ketika mendapat tawaran dari Ana sepupu saya untuk menemaninya ke lokasi penelitiannya.Bukan penelitian yang menghipnotis saya sehingga tertarik untuk ikut tetapi lokasi penelitiannya yang membuat saya untuk tidak melewatkan tawaran itu.Dari rencana semula, seharusnya kami berangkat sejak pagi. Tetapi karena masih ada beberapa urusannya yang belum rampung sehingga kunjungan ke lokasi penelitiannya harus tertunda hingga sore. Continue reading

Menikmati Senja di Pelabuhan Larea-rea

Pelabuhan Larea-reaBeberapa bulan terakhir ini saya mempunyai kebiasaan baru yaitu bersepeda. Setiap sore saya menyempatkan diri untuk bersepeda sambil berolah raga. Seperti  sore kemarin  ketika matahari sudah tidak terlalu terik, saya dan teman-teman mengayuh sepeda menuju Pelabuhan Larea-rea. Pelabuhan Larea-rea dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata di Kabupaten Sinjai. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Dengan semangat kami mengayuh sepeda menuju Pelabuhan Larea-rea. Pelabuhan itu letaknya di Kelurahan Lappa Kecamatan Sinjai Utara. Sepanjang perjalanan kami menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang apa yang lagi trend di Sinjai saat ini. Apalagi kalau bukan pilkada yang baru saja dihelat. Saya lebih banyak diam dan menjadi pendengar daripada ikut nimbrung.  Sudah mulai jenuh  mendengar kata pilkada. Terlalu banyak drama dan intrik.

Sepanjang perjalanan disuguhi dengan pemandangan yang beraneka ragam. Melewati pemukiman penduduk dan hamparan empang di kanan kiri jalan. Aroma khas empang dan pantai tercium sesaat memasuki kawasan Larea-rea. Perjalanan ke Larea-rea dengan sepeda ditempuh selama 30 menit. Sekitar 5 kilo meter jaraknya dari rumah. Banyak pengunjung yang lalu-lalang di kawasan Pelabuhan Larea-rea. Karena Pelabuhan Larea-rea merupakan salah satu tempat masyarakat Sinjai menghabiskan sore dan menikmati senja.

Pelabuhan Larea-reaPelabuhan Larea-rea adalah pelabuhan kecil yang ada di Sinjai. Sejatinya pelabuhan ini dulunya dibangun untuk menjadi gerbang masuk ke Sinjai melalui transportasi  laut dari arah timur. Namun sampai sekarang pelabuhan ini belum menjalankan fungsinya karena terkendala masalah tekhnis. Tujuan awal dibangunnya pelabuhan ini untuk dijadikan tempat berlabuhnya kapal ferry yang akan menyeberang ke Sulawesi Tenggara. Setelah gagal menjadikannya sebagai pelabuhan kapal ferry, namun dermaga ini tetap difungsikan oleh kapal-kapal kecil sebagai tempat bersandar. Kapal-kapal kecil ini adalah kapal pengangkut barang. Ada pesona lain di pelabuhan ini yaitu hutan bakau yang sedang dalam tahap pengembangan. Semoga nasibnya tidak akan berujung sama dengan pelabuhan gagal Larea-rea.

Setiap hari saat sore menjelang. Pelabuhan Larea-rea selalu ramai dikunjungi. Hal yang tidak kalah menarik adalah kita dapat melihat berbagai macam aktifitas manusia di dermaga ini yang sayang untuk dilewatkan. Seperti menyaksikan anak-anak berenang di pinggiran dermaga, menonton para pemancing yang sibuk dengan kailnya. Melihat para muda-mudi dan orang tua yang asik bercengkrama sambil menikmati semilir angin laut dan lukisan senja sambil menunggu matahari terbenam. Sejauh mata memandang hamparan birunya laut yang diapit gugusan Pulau Sembilan.

Tanaman Bakau di Larea-reaFenomena matahari terbenam atau sunset memang selalu dinantikan oleh banyak orang. Pemandangan langit pada saat sang surya terbenam dinilai sebagai momen yang romantis. Seakan mampu menghipnotis banyak orang, fenomena matahari terbenam mampu membuat orang enggan untuk beranjak ketika sedang menyaksikannya. Susah untuk bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena keindahan alam saat senja itu hanya bisa dirasakan, dilihat, dan dinikmati sendiri. Bahkan, sebagian besar orang sampai rela pergi ke tempat yang jauh, hanya untuk menyaksikan keindahan matahari terbenam yang mungkin tidak akan terulang pada hari berikutnya.

Bagi sebagian orang, ada kenikmatan tersendiri ketika bisa melihat proses matahari terbenam. Menikmati warna jingga kemerahan yang perlahan menghilang berganti menjadi hitam, indah. Dan saya pun adalah bagian dari mereka yang suka menikmati senja. Setiap pemandangan langit saat matahari terbenam pasti akan berbeda-beda karena alam kita berubah. Kondisi cuaca berubah setiap harinya, dan pergerakan bumi terhadap matahari pun juga selalu berubah-ubah.

Seiring makin senjanya pelabuhan, matahari mulai bersinar temaram dan tenggelam. Semburat lembayung memancar dari sela-sela mega yang berbaris di atas cakrawala. Dari kejauhan laut masih terlihat biru tua, barisan bukit karts terlihat bolong-bolong mulai memudar pemandangannya. Pertanda malam mulai menjelang.

Pelabuhan Larea-rea Sinjai

Sensasi Irex dan Seafood ala Sinjai

Karna saya adalah tukang makan maka setiap kali ke suatu tempat hal yang paling pertama saya cari adalah makanan khas daerah tersebut. Dan ketika mendengar kata “wisata” maka yang terlintas di pikiran saya adalah “wisata kuliner”. Saat melakukan perjalanan ke berbagai tempat, jika ada waktu luang saya lebih senang berburu kuliner dibanding mencari tempat wisata lainnya. Mau bagaimana lagi kalau dari sananya memang sudah melekat julukan sebagai tukang makan.

Irex ala Sinjai

Irex ala Sinjai

Sinjai merupakan tanah kelahiran dan tempat saya sekarang berdomisili. Sebuah kota kecil yang berjarak 223 km dari Makassar. Setiap daerah  mempunyai ciri khas tersendiri, pun begitu juga dengan Sinjai. Di Sinjai dengan mudah akan menemukan hasil laut yang segar. Secara sebagian masyarakat Sinjai mata pencahariannya adalah nelayan. Mencari wisata kuliner khas Sinjai pada malam hari  ada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lappa. Sinjai pada malam hari tidak nampak terlalu ramai. Ritme kota ini pada malam hari biasa-biasa saja. Tapi ketika berkunjung ke TPI Lappa, maka akan terlihat hiruk pikuknya keramaian para pedagang dan nelayan bertranksaksi. Kesan kumuh mewarnai area pelelangan ikan di Lappa ini.

Pemandangan kumuh, becek dan bau amis segera tergantikan dengan aroma ikan bakar yang menyengat dan membuat perut seketika bereaksi. Yang menarik dari area kuliner ini adalah pengunjung sendiri yang memilih dan  membeli ikannya. Tidak diragukan lagi kesegaran ikannya. Berbagai jenis ikan laut tersedia di area pelelangan. Mulai dari kecil sampai yang besar. Baronang, Kaneke, Cepa, Sunu, Cumi-Cumi, Udang bahkan Ikan Napoleon juga kerap tersedia. Yang selalu menjadi incaran saya dan teman-teman setiap berkunjung adalah ikan kaneke, cumi-cumi serta udang. Biasanya uang lima puluh ribu mendapatkan empat ekor ikan kaneke yang ukuran lima sampai tujuh ratus gram.

Kaneke Bakar ala Sinjai

Kaneke Bakar ala Sinjai

Suasana malam pelelangan ikan selalu ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati kelezatan ikan bakar dan nasi kuning. Terdapat warung sederhana berjejeran di sepanjang jalan masuk menuju pelelangan. Warung-warung tersebut menyediakan pembakaran ikan. Pengunjung hanya membeli nasi kuning dan ikan yang kita beli dari pelelangan tadi kemudian dibakarkan oleh mereka. Dengan cobek-cobek yang menggugah selera. Sembari menunggu ikan bakar matang, pengunjung bisa menikmati minuman khas Sinjai sebagai pembuka. Irex biasa orang menamai minuman itu. Kenapa disebut irex? Karena minuman ajaib itu yang dipercaya dapat meningkatkan stamina dan vitalitas. Irex minuman khas yang diolah secara fermentasi terbuat dari ramuan tape, madu, susu dan kuning telur.

Sensasi minuman ini  memiliki khasiat memulihkan dan menambah tenaga setelah lelah bekerja. Cara pembuatan irex tidaklah sulit. Bahan dasar yang diperlukan adalah tape singkong. Dan ditambahkan susu, telur, air kelapa, madu, sedikit tuak, buah durian dan buah-buahan lainnya. Aroma minuman ini mengikuti musim. Bila sedang musim durian, maka aroma buah durian sangat terasa di minuman ini. Semua bahan kemudian dicampur dan dihancurkan dengan blender kemudian didinginkan di dalam freezer.  Kini minuman siap dikonsumsi. Sayangnya, irex ini tidak bisa bertahan lama, karena tidak bisa diawetkan. Bila disimpan dalam lemari es, hanya dapat bertahan selama 7 hari. Irex paling cocok dikonsumsi pada malam hari. Untuk menghangatkan badan di tengah dinginnya malam.

Udang Bakar ala Sinjai

Udang Bakar ala Sinjai

Nah tunggu apalagi….jika suatu waktu berkunjung ke Sinjai, jangan lupa untuk berkunjung ke TPI Lappa. Sayangnya area kulineran khas Sinjai belum dikemas sedemikian rupa. Pemerintah daerah sepertinya belum mendapatkan ide untuk mengembangkan potensi daerahnya. Gaungnya belum terlalu gencar di social media. Dengan strategi  pengembangan dan promosi yang tepat, saya yakin wisata kuliner Sinjai akan memiliki tempat tersendiri bagi para wisatawan, melengkapi aneka wisata lainnya seperti wisata alam,wisata sejarah dan wisata budaya.